Ciko dan Tiber | Cerpen

Mereka menyukai memelihara hewan. Ika anak paling tua di keluargaku sayang sekali dengan seekor anjing berbulu tebal, dan badannya yang kecil. Diberi nama Ciko. Sedangkan adiknya yang bungsu bernama Pian memiliki seeokor burung merpati yang dipeliharanya dalam sangkar. Diberi nama Tiber.


   Kedua peliharaan ini sangat sulit untuk akur. Terkadang Tiber selalu mencari waktu yang tepat untuk menggangu Ciko. Kalau sudah seperti ini pasti membuat seisi rumah berisik.
“Tiber, Tiber ayo mau masuk sangkar tidak? sudah mulai gelap ini.” panggil Ciko di halaman belakang.
 Ciko dari bawah terus menyuruh Tiber turun. Tiber takut sekali jangan-jangan Ciko hanya ingin menangkapnya. Biasanya juga seperti itu bila Pian tidak di rumah atau sedang tidur pasti Tiber diganggu oleh Ciko.
“Ciko buat apa aku turun sangkarku saja tertutup?” tanya Tiber pura-pura tidak curiga.
“Kamu tidak takut turun hujan?” tantang Ciko.
Tiber terdiam. Benar juga, kalau hujan turun dan air membasahiku pasti aku kedinginan dan bersin-bersin bisa terkena demam. Pian masih tidur sampai sore ini, dan sangkarku siapa yang mau membukakan.
Di bawah Ciko menunggu duduk manis, sesekali melihat keatas. Tiber mungkin tidak akan mau turun bila ditunggu terus seperti ini. Bahkan dia tidak tahu lagi harus menggantung terus pada atap seng.
“pruit…pruit…pruit.” mencoba membuat perhatian Pian agar terbangun.
Berulang kali, Tiber tampak kewalahan. Bagaimana tidak bila Tiber turun dan hinggap pada sangkar yang ada di atas meja teras berarti harus siap bertarung dengan Ciko.
Ciko sesekali menghindar dari perhatian Tiber ke arah meja yang terdapat sangkar diatasnya. Tiber mencari dimana Ciko. Menapaki pinggir atap, ke arah ujung tempat turunnya air hujan.
“Sreks.” Tiber terpeleset, begitu licinnya pinggiran itu. Melihat ke bawah lubang air untuk turunnya air hujan dari atap rumah. Begitu dalamnya, bisa-bisa tersangkut kalau jatuh. Apalagi kalau mengenai sayap.
Tiber mengamati ke dalam lubang air hujan itu. Pikirnya bagaimana kalau aku turun dari sini. Lihatnya lagi tidak mungkin karena ada potongan-potongan itu yang bisa membuat sayap tersangkut. Tidak, tidak, tidak bukan ini pikirnya.
Lalu ia mengamati keberadaan Ciko lagi. Ternyata begitu tenangnya di bawah meja, tidur-tiduran. Sementara Tiber harus hinggap pada tiang seng yang tidak seberapa luas. Sesekali turun air hujan gerimis. Tik, tik, tik berbunyi di atas atap rumah.
“Ciko-ciko!” panggil Tiber.
Ciko melihat ke atas. Berjalan tenang tanpa mau terkena gerimis.
Muncul gong-gongngan Ciko. Ough, ough, ough!. Bukan menggonggong yang dibutuhkan Tiber. Ia hendak turun tapi, dengan sangat memohon agar Ciko menjauh dari sangkarnya.
“Tidak…tidak, siapa yang akan membukakan sangkarmu kalau bukan aku? tanyanya.
“Ciko, kenapa kita tidak pernah bisa akur?” tanya Tiber resah.
“Oh, tidak begitu aku merasa akur-akur saja.” jawabnya.
Bingung Tiber, merasa tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Ciko. Mana mendungnya sudah gelap sekali. Kali ini pasti hujannya sangat lebat.
“Wah, Ciko aku mohonlah, kalau kamu sering terganggu karena siulanku, ya aku tidak akan lakukan lagi.” pinta Tiber memohon.
Ciko menggelengkan kepala. Berhenti sejenak menghindar dari penglihatan Tiber. Lalu hujan sedikit muncul lagi. Tiber terlihat sudah sedikit basah pada kepala dan sayapnya.
   Ciko muncul dan menggonggong. Ough, ough, ough, pada Tiber!. Begitu terkejutnya Tiber karena sudah tidak seimbang lagi. “Raghh.” Terjatuh masuk kedalam lubang air hujan. “tung…tang…tung” bunyinya dalam lubang itu.
Perhatian Ciko cepat mendekati lubang itu. Menggonggong, ough, ough, ough. Takut terjadi apa-apa dengan Tiber.
Suasananya kemudian menjadi hening. Tidak ada bunyi lagi, tapi tidak ada yang muncul dari dalam lubang itu. Kenapa, pikir Ciko juga ikut terdiam. Apa yang sudah terjadi?.
Perlahan-lahan Ciko mendekat. Barangkali ada yang tidak beres. Dalam pikirannya tampak menyesal karena sudah membuat Tiber terkejut. Dan, lagi dia pasti sudah lelah berada di atas atap seharian.
Sambil menunggu dari ujung lubang. Ciko menciumi ujung pipa, mengangkat kepalanya ditempelkan pada dinding pipa. Mencoba mendengarkan apa ada bunyi di dalam lubang itu.
“Agh…agh…agh”. Terdengar seperti kesakitan dari dalam pipa.
Tiber kamu tidak apa-apa?” tanya Ciko dari luar pipa.
Tidak ada jawaban sedikitpun. Ciko mencoba lagi mendengarkan pada lubang itu. Masih terdengar rasa sakit.
“Ciko aku tersangkut.” teriak Tiber dari dalam pipa.
“Apa?” tanya Ciko. “Aku tersangkut, tolong aku!” teriak Tiber berulang kali.
Mencoba untuk mengeluarkan Tiber. Ciko mengangkat kedua kakinya hendak menggoyangkan pipa itu. Kemungkinan Tiber bisa terlepas. Dari dalam pipa itu makin terdengar bunyi kesakitan. “Dengan menggoyang pipa, bisa merobek sayapku. Sakit sekali!” teriak Tiber.
Semakin bingung lalu Ciko memasuk-masukkan kakinya ke dalam lubang keluarnya air hujan dari pipa. Merasa bahwa sangat menyakitkan dalam lubang hujan yang sangat sempit seperti itu. Tiba-tiba hujan mengguyur. “Byur”. Ciko berlari untuk berteduh.
“Tung…tang…tung” bunyinya dalam lubang kedua kalinya.
“Sreks.” Muncul sedikit sayap Tiber dari dalam pipa.
 Ough, ough, ough!. Ciko berlari kencang menghampiri Tiber. Air hujan sudah mengguyur basah badan Tiber. Pelan-pelan Ciko menarik sayap yang muncul itu dengan mulutnya. Menarik Tiber dari dalam pipa. “Sreks, sreks, sreks” menarik badan Tiber pelan agar tidak sakit, di bawah teras rumah.
  Melihat badan Tiber, seperti ini Ciko ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Lukanya begitu banyak. Lalu dengan cepat dia meneriaki Pian, yang memelihara Tiber. Dengan  menggonggong mencoba untuk membangunkan Pian. Ough, ough, ough!.
 Dua jam kemudian. Tiber agak sadar.
“Aku tidak ada sedikitpun berpikir untuk menangkapmu.” sapa Ciko, Tiber masih agak pusing.
Lalu mereka berdua duduk bersama. Walaupun Tiber belum sadar benar. Tiber yang berpikir buruk tentang ciko. Bila tidak mungkin kejadian tadi tidak terjadi. Hari ini berbeda mau mengucapkan selamat ulang tahun bagi Tiber saja. “Selamat ulang tahun Tiber!” ucap Ciko tulus dan mendekatkan tangannya.

Baca juga : natinedJs/Kumpulan-Cerpen

Post a Comment

Previous Post Next Post