3 Cara Pembagian Hasil Keuntungan Usaha dan Penggunaannya

natinedJs Ⓚ 2016 Kewirausahaan menjadi potensi pengembangan perekonomian suatu negara. Kewirausahaan bila berjalan sesuai dengan kondisi iklim ekonomi berjalan dan usaha tersebut mendapat pendapatan atau keuntungan usaha baik. Pertumbuhan keuntungan tersebut akan menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha. Usaha secara umum akan membentuk iklim ekonominya sendiri dan berdikari untuk membiayai kehidupan usaha serta perangkatnya. Hal tersebut yang menjadi faktor utama keberlansungan usaha disisi lain kita tidak bisa memungkiri keuntungan usaha dapat memberikan kontribusi usaha akan berjalan terus. Bagaimana cara membagi hasil keuntungan usaha agar sesuai dengan kebutuhannya?.



Banyak tindakan pelaku usaha untuk mereduksi suatu pancaroba iklim ekonomi tersebut. Iklim ekstrim ini tidak selalu berpihak dengan fasilitas lama. Sudut pandang bola modern mengatakan pertahanan terbaik adalah serangan demi serangan. Hasilnya bisa jadi spekulatif bila momentumnya menghasilkan jenuh pada lawan dan tekanan emosi bisa menghasilkan gol. Begitulah analogi pelaku usaha bila tidak mau mengalami titik jenuh terhadap tekanan perubahan ekonomi.

Sepertinya tahun-tahun kedepan semakin bergulir berbagai ketenganan. Ketengangan dari internasional maupun dalam negeri sendiri. Indonesia mengalami degradasi moral chaos dalam perpolitikan, tindak kriminal semakin menggangu, peredaran barang haram tapi diminati oleh konsumennya, dan keadaan-keadaan kehidupan sosial masyarakat yang tidak terkontrol. Dalam hal ini tahun 2015 ini muncul lagi cicak vs buaya jilid iii, dimanakah posisi lembaga adhoc dan lembaga negara kepolisian berada. Di balik sebuah jabatan saja bisa sangat mengganggu roda perekonomian.

Pengantar cerita tersebut merupakan pandangan awam atas regulasi ekonomi terhadap gangguan ekonomi. Di dalam contoh tersebut keadaan makro mempengaruhi mikro. Iklim investasi menjadi penuh keraguan. Bila ternyata kedua lembaga tersebut semakin memanas. Ketika itu juga buaya yang mempunyai personil besar benar melakukan tindakan kriminalisasi massif pada cicak. Pada akhirnya organisasi kenegaraan komponentnya mengambil langkah untuk membela salah satu pihak siapa lagi yang akan jadi penonton. Akan banyak chaos berkepanjangan dalam permasalahan tersebut bila aktivitas rakyat berada di dalam permasalahan tersebut.

Tanpa mengurangi tema dari tulisan ini, yang akan kembali merunut pada langkah pelaku usaha untuk beradaptasi dengan iklim ekonomi pancaroba. Dunia usaha sendiri secara global terbagi tiga jual beli, produksi, dan jasa. Dari ketiga bentuk usaha dasar ini biasanya pelaku usaha menyebutkan aksi ambil untung (profit margin) atas penjualan produk. Tanpa harus menyebutkan satu per satu tiap jenis usaha.

Kita bagi langsung pada tiga jenis usaha besar tersebut.


Usaha Jual Beli
    Jual beli merupakan usaha umum tidak asing bagi kita. Datang ke dalam suatu pasar menemukan berbagai komoditas dalam perdagangan pasar. Penjual maupun pembeli melakukan transaksi tanpa perantara terhadap komoditas yang diperjualbelikan. Contoh perdagangan sayur secara umum sayur merupakan kebutuhan pokok. Pedagang akan menawarkan harga dasar atas jumlah ikat atau kilo gram jenis sayur. Harga beli pedagang dari petani atau grosir sayur Rp 1.500,- kemudian harga yang muncul kepada pembelui untuk jagung Rp 2.000,- per biji. Nilai jual terhadap pembelian terdapat margin sebesar 25 %, sehingga jelas bila terdapat stok dalam jumlah 300 kg atau sekitar  150 biji. Terdapat keuntungan jual laku Rp 300.000,-. Sudah menghasilkan Rp 75.000,- putaran dagang dalam satu hari. Satu komoditas tersebut merupakan patokan dalam tulisan ini.

    Permintaan meningkat atas komoditas tersebut. Pelaku usaha tidak mempunyai stok modal dalam kasnya. Tentunya aktivitas perdagangan tersebut ujungnya akan digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Usaha tersebut sudah memiliki pelanggan tetap. Tentunya akan berdampak pada eksistensi pembeli kepada penjual bila penjual tidak dapat mempertahankan komoditas jualnya. Pelaku usaha kemudia mengambil tindakan dan langkah atas faktor makro kas usahanya. Pelaku usaha kemudian mengambil langkah mula dengan menjalin kerjasama pada grosir tahan nota dagang atau bila retailer menyebut konsinyiasi. Barang titipan, memakelarkan komoditas oleh pedagang.

    Alternatif awal atas keadaan keuangan tersebut. Pelaku usaha menjadi tidak memiliki angka sendiri atas komoditas tersebut. Kemudia mengambil langkah atas kredit modal kerja. Banyak pihak yang menyediakan modal atas usaha. Missal rentenir pasar, koperasi, lembaga keuangan dan juga bank umum. Dengan aset tetap diberikan oleh pelaku usaha tersebut sebagai jaminan atas penggunaan dana. Tidak ada pengertian di luar bangkrut karena skemanya merupakan analisa alami tanpa paksaan. Dengan keinginan untuk memaksimalkan dana pribadi atas penjualan satu komuditas.

    Rahasia usaha di balik kredit  sudah tersirat di atas. Spekulasi awal karena pedagang sudah mengetahui permintaan atas jagung tersebut. Permintaan berdasarkan harian sehingga muncullah dana segar baru. Bila menghitung satu komoditas itu saja? Berapakah sebenarnya kemampuan maksimal jagung tersebut membayar kredit usaha dan memberikan keuntungan kepada pedagang.
    Komoditas jagung itu sendiri maksimal hasil dalam 30 hari Rp 2.250.000,-.  Tiga pos dasar kita bagi menjadi kewajiban. Biaya operasional usaha, biaya rumah tangga, dan biaya yang muncul atas kredit berjalan ke depan menjadi kewajiban. Dari hasil komoditas ini akan muncul lagi sisa hasil usaha kemudian akan menjadi lumbung baru atas modal.

    Pembagiannya tidak cukup rumit. Hanya saja perlu dilakukan komitmen untuk membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa. Artinya modal kredit atas usaha tersebut bukan merupakan kas tapi merupakan hutang atas modal wajib dibayarkan dalam jatuh temponya. Di lihat dari hasil globalnya pembagiaannya menjadi 4, 3 kewajiban harus terealisasi dan untuk yang keempat merupakan suatu aktivitas atas usaha menghasilkan.

    Biaya operasional usaha 15 %, biaya rumah tangga 25 %, kewajiban atas kredit usaha 50 %,dan hasil semu 10 %. Berdasarkan hasil atas penjalan jagung dalam 30 hari berarti Rp 225.000,- di bagi pada operasional usaha, Rp 562.500,- biaya rumah tangga, kewajiban atas kredit muncul Rp 1.125.000,-. Hasil semu yang belum bisa di alokasikan Rp 337.500,-.penerapan pos ini belum tentu mudah dilakukan karena tidak mungkin meletakkan modal usaha kredit dalam satu komoditas saja.

    Tentunya pengoptimalan administrasi dapat memberikan langkah untuk memasukkan modal usaha atas kredit dalam satu komoditas saja. Karena bila dilakukan secara global dapat menggangu kewajiban komoditas tersebut untuk membayar hutangnya. Dan tentunya komoditas unggulan pelaku usaha terhadap komoditas lain menjadi tumpang tindih. Tentunya pelaku usaha tidak mau kejadian tersebut. Berdasarkan analisa usaha lembaga keuangan sudah ada mekanisme global untuk memaksimalkan jumlah modal usaha segar baru yang dapat diberikan kepada kreditur atau pelaku usaha. Tapi, terkadang pelaku usaha memaksakan permintaan atas hutang. Sehingga komoditas tersebut menjadi jenuh dan permintaan tidak meningkat bahkan mengalami penurunan.

    Rahasia di balik kredit merupakan persentase. Hasil membagi atas hasil. Muncullah pembayaran atas hasil tersebut. Tidak akan pernah terjadi kredit akan lebih mahal dari profit margin yang modal usahanya kembali kepada pembelian barang lagi. Karena profit margin usaha akan lebih tinggi berdasarkan komoditas dari untung bunga usaha lembaga keuangan atau bank umum. Tergantung bagaimana menyikapi siklus penjualan atas komoditas yang akan menghasilkan keuntungan untuk membayarakan kewajiban-kewajiban yang muncul dari aktivitas usaha tersebut. Tidak perlu memaksakan diri apalagi memaksakan nilai aset sehingga pada waktunya terlikuidasi baik oleh kreditur sukarela atau penyitaan. Tindakan wanprestasi dapat mencoreng nama baik (good wiil) sehingga tidak perlu melakukan tindakan spekulatif di luar kebiasaan bisnis yang dilakukan oleh stake holder.


    4 Pembagian Keuntungan Usaha

    Bayar kewajiban Usaha

    Kewajiban usaha 4 elemen penting yang harus dibayarkan tepat pada waktunya agar tidak mempengaruhi pembukuan usaha;
    1. Bayar kredit usaha bank atau lembaga keuangan lainnya misal bayar angsuran kredit modal kerja atau bayar  angsuran kendaraan operasional usaha.
    2. Bayar tagihan operasional usaha misal bayar air dan listrik serta gas.
    3. Bayar gaji karyawan.
    4. Bayar salar atau sewa tempat usaha.

    Bayar kebutuhan Rumah Tangga

    Kebutuhan rumah tangga juga merupakan kebutuhan wajib. Terdapat 3 komponen dalam melakukan aktifitas kebutuhan rumah tangga sebagai berikut.
    1. Bayar belanja mingguan atau bulanan
    2. Bayar kebutuhan sekolah
    3. Bayar biaya oprasional rumah tangga seperti listrik, air dan gas.

    Bayar kebutuhan lainnya (Tidak Wajib)
    1. Kebutuhan sosial atau lingkungan dimana terdapat kewajiban bayar untuk permukiman atau keagamaan.
    2. Kebutuhan sosial undangan hajatan atau lainnya.
    Kebutuhan wajib dan tidak wajib semua dapat dibayarkan melalui keuntungan usaha sehingga tidak mempengaruhi modal kerja. 
    Previous Post Next Post