Cara Kerja Pestisida dan Pengelompokannya

 natinedJs ⓚ 2026 Pada Januari–Juni 2026 luas tanam dan luas panen padi di Kabupaten Ende mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Serangan vertebrata hama yaitu tikus menjadi penyebabnya pada musim tanam pertama (MT I). Menyebabkan gagal tanam di sejumlah lahan dan menggeser jadwal panen petani. (Sumber : rri.co.id). Kasus serangan lainnya di Pinrang, Sulawesi Selatan di serang hama penggerek pada tanaman padi sehingga gagal panen hanya menghasilkan 45 karung dari 2 Ha. (Sumber: Detik.com)


Cara penanggulangan serangan hama dan penyakit sangat banyak dengan tujuan yang sama mengendalikan perkembangbiakan hama agar masih ada di ambang batas. Petani menggunakan cara umum yaitu penyemprotan pestisida. Bagaimana cara kerja pestisida dan pengelompokannya sehingga cukup efektif menekan pertumbuhan hama? Tujuan dari pengetahuan ini adalah penggunaan pestisida dari kelompok cara kerja tidak digunakan terus menerus.

Cara Kerja Pestisida :

1. Racun lambung : bahan beracun pestisida yang dapat merusak sistem pencernaan jika tertelan oleh serangga.

Contoh : Bahan aktif sipermetrin, diazinon dll produk PT Petrokimia Kayaku - Instop 311 EC.

2. Racun kontak : bahan beracun pestisida yang dapat membunuh atau mengganggu perkembangbiakan serangga, jika bahan beracun tersebut mengenai tubuh serangga.

Contoh : Bahan aktif deltametrin, sipermetrin dll produk Agrochemica - Firmento 550/60EC.

3. Racun nafas : bahan racun pestisida yang biasanya berbentuk gas atau bahan lainya yang mudah menguap (fumigan) dan dapat membunuh serangga jika terhisap oleh sistem pernapasan serangga tersebut.

Contoh : Bahan aktif metil bromida, difenokonazol dll produk PT Petrosida Gresik Yosan 575 EC.

4. Racun saraf : bahan racun pestisida yang menggangu sistem saraf hama sasaran yang sudah mati. Proses terjadi setelah kontak dan lambung.

Contoh : Bahan aktif malation, karbofuran dll produk CV Uni Agro Chemica Rizotin 100 EC.

5. Racun protoplasmik : racun pestisida yang bekerja dengan cara merusak protein, menghancurkan protoplasma dan kematian dalam sel tubuh hama sasaran yang sudah mati. Proses terjadi setelah kontak dan lambung.

Contoh : alifatik terklorinasi, senyawa fluorin dll produk PT Biotis Agrindo Spectrone 250/200EC.

6. Racun sistemik : bahan racun pestisida yang masuk ke dalam sistem jaringan tanaman dan di translokasikan ke seluruh bagian tanaman, sehingga bila di hisap atau di makan atau mengenai tubuh sasaran bisa meracuni. Pestisida tertentu hanya menembus jaringan tanaman (translaminar) tidak akan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. Racun di serap dan dialirkan ke seluruh jaringan tanaman akar, batang, daun hingga buah.

Contoh : imidaklorpid, asetamiprid dll produk PT Syngenta Indonesia Score 25 EC.

Insektisida (Racun Serangga)

Terdapat empat golongan besar insektisida menurut sifat kimianya :

1. Organoklorin : insektisida sintetik yang paling tua disebut dengan Hidrokarbon Klor. Pengaruh keracunan hiperaktivitas, gemetar kemudian kejang hingga kerusakan saraf dan otot yang menimbulkan kematian. Organoklorin stabil sehingga residunya sulit terurai.

2. Organofosfat : insektisida yang menghambat enzim asetilkolinesterase, sehingga terjadi penumpukan asetilkolin akibatnya terjadi kekacauan sistem pengantar impuls saraf ke sel-sel otot. Otot menjadi kejang karena impuls tidak dapat diteruskan dan terjadi kelumpuhan (paralisis) sehingga serangga mati.

3. Karbamat : insektisida spektrum luas. Cara kerjanya sama dengan organofosfat. Perbedaannya karbamat reversible atau dengan kata lain enzim dapat dipulihkan lagi. Karbamat cepat terurai.

4. Piretroid : piretrium sintetis, stabil bila terkena sinar matahari dan relatif murah serta efektif untuk mengendalikan sebagian besar serangga hama. Racun kontak kuat mempengaruhi sistem saraf tepi dan saraf pusat serangga. Stimulus sel saraf berproduksi secara berlebih karena piretroid menyebabkan paralisis dan kematian pada serangga.

Fungisida (Racun Fungi atau Jamur)

Fungisida merupakan jenis pestisida untuk mengendalikan dan mengatasi pertumbuhan jamur pada tanaman. Cara kerja fungisida dengan cara menghambat pertumbuhan jamur sampai dengan menghancurkan seluruh struktur sel jamur. Untuk penggunaan produk disarankan untuk mengikuti petunjuk penggunaan karena penggunaan yang tidak tepat dapat berdampak negatif pada lingkungan dan manusia.

Cara Kerja Fungisida 

Fungisida kontak (nonsistemik) : protektan melindungi tanaman dari serangan patogen di permukaan tanaman. Fungisida jenis ini tidak dapat menyembuhkan tanaman yang sudah sakit. 

Contoh :

1. Bahan aktif seperti tembaga (Cu) seperti Cupravit, bekerja dengan cara denaturasi protein yang menyebabkan kematian sel jamur.

2. Fungisida ditiokarbamat misalnya mankozeb, bekerja sebagai agen pengkhelat unsur yang dibutuhkan oleh jamur sehingga terjadi penghambatan pertumbuhan. 

Fungisida Sistemik : bekerja sampai jauh dari permukaan tanaman dan dapat menyembuhkan tanaman yang sudah sakit. Fungisida ini terserap ke jaringan tanaman dan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. Fungisida sistemik bekerja bersama dengan proses metabolisme tanaman.

Contoh :

Fungisida sistemik hanya bekerja pada satu tempat dari bagian sel jamur sehingga mempunyai cara kerja single site action atau spesifik. 

1. Oxathiin yang menghambat suksinat dengan hidrogenase yang penting dalam proses respirasi di dalam mitokondria.

2. Benzimidazole berpengaruh pada pembelahan inti dengan mengikat mikrotobulus sehingga benang gelendong tidak terorganisir.

3. Antibiotika poliokson dan kitazin menghambat sintesis khitin patogen.

Baca Juga :

Post a Comment

Previous Post Next Post